Sepucuk Surat dari Angin
Di senja yang temaram, aku mendengar bisikan,
Angin membawa pesan dari tempat yang jauh,
Lembut berdesir di telinga,
Seperti sahabat lama yang menyapa dalam kerinduan.
Sepucuk surat dari angin,
Ditulis dengan huruf-huruf tak terlihat,
Pesan yang dikirim dari ujung dunia,
Menggetarkan hati yang sepi dalam sunyi.
"Berjalanlah ke tempat yang tak terduga,"
Begitu bunyi baris pertamanya,
"Di sana kau akan temukan arti sejati,
Dari mimpi yang selama ini kau kejar."
Angin bercerita tentang gunung tinggi,
Tentang lembah yang hijau dan lautan biru,
Tentang perjalanan yang penuh warna,
Dan jiwa-jiwa yang bertemu di setiap simpang.
"Jangan takut pada angin ribut,"
Bisikan itu menguatkan keyakinanku,
"Karena di balik badai, langit akan terang,
Dan kau akan temukan kedamaian yang baru."
Surat dari angin ini membawa kenangan,
Dari masa lalu yang tertiup pergi,
Namun selalu kembali dalam hembusan lembut,
Mengisi ruang kosong di sudut hati.
Aku membaca surat itu dalam diam,
Merenungi kata-kata yang tak terucap,
Hanya angin yang tahu jalan ke hatimu,
Dan hanya angin yang bisa menyampaikan rindu.
"Jangan lupa, selalu ada angin yang setia,"
Tulisnya di akhir pesan,
"Yang akan membawa pulang setiap mimpi,
Dan setiap cinta yang hilang di waktu."

