Seblak High Level
Kabut masih menebal di atas licinnya jalan di pagi hari. Namira berlari menelusuri jalan cor beton menunju sekolah yang selalu dirindukan. Bu Hasna dan Pak Wira hanya bisa menggeleng kepala sembari bangga melihat putrinya begitu semangat ke sekolah. Setiap pagi sarapan Namira selalu ditinggal dengan alasan takut ketinggalan.
“Ayah ibu Namira berangkat sekolah!” Tangan Namira bersalaman secepat kilat menyambangi tangan kedua orang tuanya.
Tak berapa lama gadis periang itu sampai di dekat sekolah. Banner warung “Seblak Mantap bikin hidup semangat” melambai-lambai menyambut para pelanggan setia.
“Ibu, aku pesan seblak yang high level.” Pesan Namira sembari duduk di bangku paling depan.
Namira selalu menjadi pelanggan nomor satu di pagi hari. Tak peduli hujan dia tetap semangat datang ke warung pinggir sekolah. Sepuluh menit pesanan Namira telah datang.
“Wow...merahnya menggoda perutku, pasti ini high level...seleraku!” Gumam Namira.
Gadis periang itu menyantap pesanannya penuh semangat. Nampak ada rasa kepuasan terpancar setelah menyantap seblak seleranya. Hari-hari terasa cerah jika telah menyantap seblak yang panas dan pedas.
Selesai menyantap Namira langsung menuju kelas dengan penuh semangat. Tampak teman-temannya selalu heran pada selera dan kebiasaan gadis periang itu. Tak ada rasa sakit perut saat menyantap seblak high level. Padahal menurut teman-temannya seblak yang dimakan Namira benar-benar membuat bibir ndower.
“Hai, Mira apa perutmu tak sakit makan seblak tiap pagi?” tanya Lukas sambil bercanda.
“Ohhh, tentu tidak, malah kalau ga makan seblak hidupku rasanya hampa...hehe.” canda Namira.
Mendengar perkataan Namira semua temannya mengerutkan kening heran. Dalam pikiran temannya apa Namira di rumah tidak pernah sarapan pagi. Bahkan pertanyaan dipikiran temannya apa orang tuanya tidak tahu kalau Namira suka makan seblak. Ahh...bertumbuk-tumpuk pertanyaan di benak semua temannya.
...
Kebiasaan Namira terus berlanjut bahkan dinobatkan menjadi pelanggan super paten oleh warung. Pemilik warung sampai hafal menu yang disukai Namira. Dia selalu nomor satu dipagi hari. Seblak high level menjadi menu tetap setiap pagi. Seblak yang dipesan selalu tak pernah tersisa sedikitpun. Dia sudah mengganggap seblak menjadi penyemangat dipagi hari sebelum sekolah.
“ Seblak high level ya bu.” Pesanan Namira di pagi hari.
“Siap, Mba!” jawab penjual dengan rasa gembira.
Selesai menyantap menu kesukaannya Namira langsung ke lapangan untuk mengikuti pelajaran olahraga. Hari itu materi olah raga adalah lari jarak pendek. Semua siswa melakukan pemanasan sebelum olahraga dimulai. Saat kegiatan pemanasan tiba-tiba Namira jatuh sambil memegangi perutnya.
“ Pak Guru, Namira pingsan!” teriak Ikram dari baris belakang.
Mendengar teriakan Ikram semua siswa dan guru berlari menuju tempat Namira pingsan. Secepatnya Namira di bawa ke Rumah Sakit yang hanya 500 m dari sekolah. Tak lama kemudian Namira sadarkan diri.
“ Namira apa yang kau rasakan sampai pingsan?” tanya guru
“Perutku sakit sekali pak, kepalaku juga pusing banget.” Jelas Namira yang masih berbaring di ranjang UGD RS.
“ Sekarang bagaimana kondisimu?” tegas Pak guru
“Diberi Seblak paling nanti sembuh dan semangat lagi, Pak?” ledek Lukas dari bali klambu.
Mendengar Lukas mengejek Namira hanya senyum kecil. Setelah memastikan kondisi Namira sudah membaik pak guru membawanya pulang ke sekolah. Seperti biasanya Namira bermain dan bercanda riang dengan teman akrabnya. Tak luput dari percakapan seblak high level menjadi topik utama. Namira selalu bercerita betapa nikmat dan mantapnya saat makan seblak kesukaannya.
“ Namira, apa ga takut perutmu meledak tiap pagi makan seblak?” canda Ikram
“Emangnya makan bom sampai meledak?” Sahut Namira santai
“Ah... sudahlah ga usah banyak komen, coba saja makan seblak yang aku suka pasti kalian ketagihan!” tegas Namira.
Keesokan paginya Namira seperti biasa selalu meninggalkan sarapan dan berpamitan dengan kedua orang tuanya. Terbayang sudah kenikmatan seblak yang ada di warung sebelah sekolah.
Tak menunggu lama penjual seblak mengantar seblak kesukaan Namira tanpa harus dipesan. Pelanggan yang satu ini selalu nomor satu kedatangannya di warungnya. Tampaknya Namira telah menjadikan seblak high level sebagai gaya hidupnya.
Bel masuk sudah menggema di sudut-sudut sekolah. Terkopoh-kopoh Namira menghabiskan seblak panas dan pedas. Namira berusaha fokus mengikuti pembelajaran sembari menahan pedas dan panas bibirnya.
Tak lama berselang kepala dan perut Namira mulai tak bersahabat. Prakkkkk... suara kursi terguling, nampak Namira jatuh dan pingsan. Seketika guru dan teman sekelas menolong membawanya ke UKS. Namun karena lama tidak sadar maka Namira dibawa ke RS terdekat. Dengan penangangan dokter yang sigap Namira akhirnya siuman.
“Apa yang kau rasakan, Nak?” tanya guru
“Perutku sakit sekali, Pak.” Rintih Namira sambil memegangi perutnya.
...
Bu Hasna dan Pak Wira kaget mendengar diagnosa dokter terhadap Namira. Rasanya tidak percaya tapi terjadi. Orang tua Namira mengenal anaknya rajin berangkat sekolah setiap pagi. Ternyata hanya sebagai alasan saja untuk bisa makan seblak high level.
Namira difonis oleh dokter terkena penyakit kanker usus pencernaan. Penyakit yang menyerang gadis itu sebagai efek makanan yang pedas dan panas. Tidak ada solusi lain untuk menolong selain operasi usus besar. Setelah operasi dilakukan maka sebagai lobang pembuangan dialihkan ke bagian pinggang sebelah kanan. Pasien dengan kondisi seperti itu tidak bisa bergerak bebas dan pola makannya sangat terjaga.
Tanpa pikir panjang Pak Wira mengijinkan dokter untuk mengoperasi anaknya. Satu jam dokter selesai mengoperasi dan dibawa ke ruang perawatan. Setiap hari Namira mengerang kesakitan saat buang air besar.
Empat hari Namira terbaring di RS kini harus melanjutkan di rumah. Di rumah dia hanya bisa terbaring dan memandang langit-langit. Pada titik inilah Namira merasakan penyesalan yang sangat mendalam.
“Kini aku hanya bisa terbaring di tempat tidur, terbujur lemas dan memelas.” Sesal Namira
Bu Hasna hanya bisa memandang putrinya dengan hati yang pilu. Meskipun putrinya telah membohonginya setiap pagi namun melihat kondisinya saat ini hatinya terasa perih. Hanya doa selalu dipanjatkan untuk kesembuhan putrinya.
“Permisi...permisi...permisi!” Lukas berusaha mencari tuan rumah.
“Silakan masuk, Nak Lukas!” Ibunda Namira menyambut sahabat anaknya penuh gembira.
“Namira bagaimana kondisinya, Bu?” tanya Lukas
“Yah... seperti itu, Nak. Belum membaik.” Jawab Ibunda Namira penuh sedih
Ibunda Namira mengajak sahabat anaknya itu ke dalam kamar Namira. Melihat sahabatnya menjenguk hati Namira semakin pilu dan menyesal. Teringat nasihat sahabatnya selalu ditolak dan diabaikan. Dia selalu mengagumi makanan kesukaannya yang menurutnya bisa bikin semangat. Namun akhirnya kebiasaannya berakibat penyesalan tiada berujung.
Namira hanya bisa menangis terisak-isak melihat sahabatnya berpamitan. Dia merasakan betapa senangnya jadi anak yang sehat. Tapi semua itu sudah terlambat bahkan tak bisa terulang kembali. Kondisi Namira yang semakin parah memaksa dia hanya bisa terbaring setiap hari. Hidupnya bergantung pada ayah dan ibunya.
Setiap malam tiba Namira berusaha memandang gelap di luar jendela. Pikirannya menembus suasana gelap seperti hidupnya sekarang. Kebebasan yang terenggut oleh kebiasaan buruk kini tak mungkin lagi kembali. Seblak high level idolanya tak mampu menuntun kembali ke hidupnya dulu.
Kini dunia yang Namira miliki hanya seluas kamar tidurnya. Kursi roda sebagai penopang hidupnya. Sesal tiada berujung melekat erat dalam mengarungi sisa usia yang hanya menghitung hari.
Selesai

