Elegi Pohon Tua: Mengenang Waktu dalam Daun-daun yang Gugur
Di bawah naungan langit yang lebar,
Terdapat pohon tua yang berkisah tentang waktu.
Batangnya yang tegar mencuat tinggi ke langit,
Merintis sejarah dalam kesejukan rindangnya.
Daun-daunnya pernah menyanyikan lagu musim,
Mengubah warna dengan sentuhan keemasan.
Namun, kini, mereka berguguran satu per satu,
Elegi pohon tua, mengenang waktu yang terus berlalu.
Daun yang gugur adalah kisah perpisahan,
Dengan musim yang pergi, dan hari yang berganti.
Pohon tua, saksi bisu perjalanan waktu,
Mengenang semua yang tlah dilaluinya.
Angin berbisik di antara ranting-rantingnya,
Seolah-olah menceritakan cerita zaman dahulu.
Pohon tua, peluklah kenangan yang tak terlupakan,
Di dalam pangkuannya, tersemat sejuta nostalgia.
Setiap guguran daun adalah puisi perpisahan,
Mengenang embun pagi dan senja yang meredup.
Pohon tua, dengan akarnya yang melingkar erat,
Tersimpanlah sejarah dalam pangkal bumi.
Elegi pohon tua, serenade bagi waktu yang berjalan,
Dalam daun-daun yang gugur, terukir kenangan.
Waktu membentuk ringan dan berat di rantingnya,
Menyimpan jejak perjalanan di setiap goresan kayu.
Meski daun-daun gugur dan musim berlalu,
Pohon tua tetap kokoh berdiri.
Eleginya menjadi harapan yang menari,
Mengingatkan kita bahwa waktu tak terhenti.
Di bawah bayangan pohon tua yang memeluk waktu,
Terlukislah elegi, menyentuh hati dan pikiran.
Daun-daun yang gugur, sebagai pengingat abadi,
Bahwa setiap detik adalah bagian dari kisah yang tak ternilai.

