Bisikan di Pintu Malam
Di ambang malam yang tenang dan pekat,
Aku berdiri di pintu waktu,
Menanti bisikan yang datang dalam gelap,
Menghantarkan mimpi di ujung keheningan.
Di setiap detik yang berlalu,
Terdengar suara lembut yang berbisik,
Menyelusup di antara bayangan dan sinar rembulan,
Membawa pesan dari dunia yang tersembunyi.
“Jangan takut pada kegelapan,” bisik malam,
“Ada rahasia yang hanya bisa ditemukan dalam sunyi,
Ada kedamaian yang hanya bisa dirasakan,
Saat semua suara dunia terdiam.”
Aku merasakan hembusan angin malam,
Menyentuh lembut pipiku,
Seolah membawa cerita yang terlupakan,
Dari masa lalu yang terkunci dalam kenangan.
Malam berbicara dengan bahasa bintang,
Mengisahkan kisah cinta yang tak terucap,
Tentang harapan yang terus menyala,
Meski tersembunyi di balik bayang-bayang.
“Dengar,” kata malam, “ada suara di dalam hatimu,
Yang hanya bisa kau dengar dalam keheningan ini,
Ada mimpi yang bersembunyi di balik mimpi lainnya,
Menunggu untuk kau temukan.”
Di pintu malam, aku berdiri dan mendengar,
Setiap bisikan membawa ketenangan dan kebijaksanaan,
Mengajakku berjalan dalam kegelapan dengan mata terbuka,
Menemukan cahaya yang berkilauan di hati.
Malam mengajarkanku tentang kesabaran,
Tentang bagaimana menemukan keindahan,
Di setiap sudut gelap yang terabaikan,
Di setiap detik sunyi yang sering kita abaikan.
Dengan hati yang terbuka dan pikiran yang tenang,
Aku menyambut malam dengan pelukan lembut,
Mendengarkan bisikan yang membawa kedamaian,
Di pintu waktu, di pintu malam yang abadi.

