KABUT MALAM
Aku melirik jam di kamarku, masih jam 7 lewat. Malam ini terasa sangat lama, karena sudah dua pekan ini desaku digemparkan dengan kejadian yang memilukan dan membuat seluruh warga desa menjadi takut untuk keluar rumah setelah magrib tiba. Dua minggu lalu, polisi datang ke desa kami untuk mengabarkan bahwa cak Priyo salah satu pemuda di desa kami meninggal secara mengenaskan dengan cara gantung diri di pohon besar desa kami. Cerita yang berkembang bahwa cak Priyo frustasi berat karena ditinggal oleh pacarnya kawin dengan laki-laki lain. Dia ingin membuktikan rasa sayangnya dengan mengakhiri hidupnya.
Kejadian bunuh diri itu membuat banyak cerita bahwa arwah cak Priyo masih gentayangan dan masih ada di sekitar desa ini. Banyak kejadian mistis sering terjadi. Minggu lalu tiba-tiba sapi milik kepala desa kami mati mengenaskan dengan luka di lehernya. Sebelum kejadian matinya sapi itu ada sosok pria yang sempat dilihat oleh warga dan mempercayai bahwa sosok itu adalah cak Priyo yang tidak tenang. Beberapa ternak milik tetangga tiba-tiba saja mati mendadak tak ada sebabnya. Warga sering dibuat lari terbirit-birit karena melihat sosok pria berbaju putih yang melintas di jalan dan kejadian mengerikan selalu terjadi saat malam tiba dan kejadian seperti ini terus saja terulang. Oleh karena itu, warga desa kami tidak ada yang berkeliaran setelah magrib karena takut. Seperti kota mati saat malam tiba, ditambah lagi burung hantu sering saja berkeliaran di sekitar desa kami. Dengan bunyinya yang khas membuat malam ini semakin mengerikan.
Tiba-tiba ada suara pintu diketok oleh seseorang yang semakin lama semakin keras. Sontak aku kaget mendengar suara itu. Bulu kudukku tiba-tiba saja merinding, jantung semakin berdetak kencang. Aku yang masih ada di kamar semakin menarik selimutku. Namun suara ketokan pintu semakin lama semakin kencang. Aku yang sudah tak kuat menahan rasa takutku, segera kupanggil ibuku yang tadi sudah masuk kamarnya dari tadi. Karena tidak ada sahutan dari ibuku, segera aku bergegas ke kamarnya. Dan, aku melihat ibuku sudah berselimut di tempat tidurnya. Suara pintu semakin keras di gedor, dan aku menjerit dengan keras karena kaget ada suara yang memanggilku. “Marni, buka pintunya, aku ibumu.” Lantas siapa yang berada di kamar ibuku itu?

