Umat dan Arah yang Hilang: Ketika Kepedulian Terkikis, Tujuan Terlupakan

Umat dan Arah yang Hilang: Ketika Kepedulian Terkikis, Tujuan Terlupakan
Penulis bersama mahasiswa Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh dan tokoh masyarakat dalam sebuah kegiatan dakwah (16/April/2021)

Edusiana  (8/Mei/2025) 

Mungkin, judul yang penulis angkat "Umat dan Arah yang Hilang: Ketika Kepedulian Terkikis, Tujuan Terlupakan" membentangkan sebuah paradoks yang menyayat hati. Di tengah arus zaman yang sering kali mementingkan diri sendiri, kita patut menghela napas lega dan memanjat syukur yang tak terhingga. Sebab, di antara riuhnya ketidakpedulian, masih bersinar terang lentera-lentera kebaikan. Masih ada tangan-tangan iklas yang tak lelah mengulurkan bantuan kepada kaum lemah, mereka yang terhimpit kesulitan, dan membutuhkan uluran kasih.

Kita menyaksikan dengan haru bagaimana segelintir insan dengan gigih menjaga bara agama tetap menyala, mengingatkan umat akan nilai-nilai luhur dan jalan kebenaran di tengah hiruk pikuk dunia. Ada pula dengan penuh dedikasi mencurahkan waktu dan tenaga untuk memajukan intelektualitas dan profesionalitas umat, menyadari bahwa ilmu dan keahlian adalah kunci tercapainya tujuan. Dan sungguh melegakan, masih ada segolongan orang yang masih peduli pada urusan-urusan umat secara kolektif, berjuang untuk kemaslahatan bersama, berusaha merajut kembali benang-benang persaudaraan yang mulai terurai.

Namun, di sisi lain, bayang-bayang kesedihan dan keprihatinan tak dapat kita hindari. Judul artikel ini menemukan gaungnya yang pedih dalam realitas yang kita saksikan sehari-hari. Betapa banyak di antara kita yang seolah kehilangan kompas, tak lagi memiliki kepekaan terhadap sesama. Empati terkikis, digantikan oleh individualisme yang akut. Kita lebih sibuk dengan urusan pribadi, dengan ambisi dan kepentingan kelompok sendiri, hingga lupa bahwa kita adalah bagian dari satu tubuh umat.

Ironisnya, alih-alih saling menguatkan dan bahu-membahu, kita justru terjebak dalam lingkaran fanatisme sempit. Loyalitas buta pada "dinasti" (mohon maaf, bila penyebutan penulis ada yang menilainya kasar) atau kelompok sendiri, membutakan mata hati dari kebenaran dan keadilan. Masya Allah, potensi-potensi unggul yang tidak berasal dari "lingkaran dalam" seringkali terpinggirkan, menghambat kemajuan kolektif.

Lebih menyakitkan lagi, budaya saling menjatuhkan dan saling fitnah seolah menjadi wabah yang merusak tatanan sosial. Kata-kata pedas dan tuduhan tak berdasar dilontarkan tanpa rasa tanggung jawab, merobek ukhuwah islamiah yang seharusnya kita jaga. Ketidakpedulian terhadap intelektual dan profesionalitas juga menjadi ironi. Ilmu dan keahlian yang seharusnya menjadi modal utama, seringkali diremehkan atau bahkan diabaikan.

"Umat dan Arah yang Hilang" bukan hanya sekedar diagnosis, melainkan juga sebuah pertanyaan reflektif. Dimanakah letak keseimbangan antara harapan dan keputusasaan ini? Mengapa di tengah bersinarnya cahaya-cahaya kebaikan, kegelapan egoisme dan perpecahan justru semakin pekat?

Kisah ini adalah tentang dua sisi mata uang. Ada harapan yang terpancar dari segelintir orang yang masih setia menjaga nilai-nilai luhur. Namun, ada pula kepedihan yang mendalam akibat hilangnya rasa persaudaraan dan tujuan bersama di sebagian besar umat.

Maka, mari kita jadikan ini sebagai momentum untuk merenung. Apakah kita akan terus membiarkan kepedulian terkikis dan tujuan terlupakan? Ataukah kita akan meneladani jejak mereka yang masih setia berbuat baik, dan bersama-sama mencari kembali arah yang hilang, merajut kembali persatuan, dan menghidupkan kembali semangat kepedulian dalam hati kita? Pilihan ada di tangan kita. Masa depan umat ini bergantung pada sejauh mana kita mampu menyeimbangkan antara rasa syukur dan kesadaran akan tantangan yang ada di hadapan.

Tak ada guna lagi menangis kalau kita hanya meratapi keadaan tanpa berbuat apa-apa. Air mata penyesalan tidak akan mengembalikan kepedulian yang hilang atau menemukan kembali arah yang tersesat. Sekaranglah saatnya untuk berbuat. Menghidupkan kembali rasa empati dalam diri, mulai peduli pada sesama di sekitar kita, memperkuat ukhuwah, menjunjung tinggi ilmu dan profesionalitas, dan mengikis habis loyalitas dinasti dan fanatisme.

Pastinya, apa yang penulis angkat dalam artikel ini, bukanlah sekedar opini, melainkan refleksi dari fakta-fakta yang penulis amati dan alami selama berkecimpung dalam dunia dakwah sejak tahun 2006. Transformasi dakwah pun terjadi, jika dahulu lebih berinteraksi langsung dari panggung ke panggung, kini penulis menemukan medium baru melalui tulisan, yang memungkinkan jangkauan pesan lebih luas dan abadi.

Melalui artikel ini, penulis mengajak umat, khususnya pembaca, untuk belajar pada mereka yang masih setia menggenggam bara kebaikan. Jadikan semangat mereka sebagai inspirasi dan pendorong untuk melakukan kebaikan. Setiap uluran tangan, setiap kata nasehat yang bijak, setiap upaya untuk memajukan umat, sekecil apapun, akan menjadi sumbangsih berharga dalam menemukan kembali arah yang hilang. Jangan biarkan kegelapan egoisme menelan seluruh cahaya harapan. Saatnya bangkit, bergerak, dan bersama-bersama membangun kembali umat yang kuat, peduli, dan memiliki tujuan yang jelas.

Penulis: Ust. Sayuti Is, S.Sos, Mahasiswa (S2) UIN Ar-Raniry Banda Aceh