Sekuntum Harapan di Antara Lengkingan Lorong Tua
Di antara lengkingan lorong tua yang sunyi,
Tersembunyi sebuah sekuntum harapan yang kian merayap,
Di sela-sela buku-buku usang yang terabaikan,
Itu adalah benih yang tetap hidup, tak pernah layu.
Di sudut gelap, di bawah cahaya redup,
Harapan itu mengembangkan kelopaknya,
Menari-nari dengan lembut di antara debu-debu masa lalu,
Seolah ingin menyapa setiap jiwa yang lewat.
Dalam keheningan, ia berseru tanpa suara,
Memanggil-manggil pada mereka yang mau mendengar,
"Di sini, di sini," bisiknya pelan,
Menjadi cahaya di tengah kegelapan yang menyelinap.
Lalu datanglah, dengan langkah yang berdebu,
Mereka yang haus akan arti dan makna,
Mereka yang mencari sesuatu yang tak terucapkan,
Mereka yang memahami bahasa diam harapan.
Dan di antara lengkingan lorong tua yang sunyi,
Terpatri senyum pada bibir yang lelah,
Karena di sana, di sana,
Mereka menemukan sekuntum harapan yang tetap hidup.

