Rindu yang Tak Tersurat
Di lorong sunyi hati berbicara,
Memanggil nama yang terhenti dalam nada,
Rindu yang tak tersurat, merayap pelan,
Di antara ingatan yang menganga.
Seperti embun di pagi yang redup,
Rindu membasahi setiap detik waktu,
Menyulut bara yang terpendam,
Di dalam dada yang resah berkelana.
Kata-kata tak mampu menciptakan lukisan,
Akan kehadiranmu yang tersemat di sanubari,
Rindu yang tak tersurat, menjadi senja yang sunyi,
Di balik awan kelam yang merajai.
Namun meski tak terucap dalam lafal,
Rindu ini mekar, tiada henti menyala,
Menyanyikan lagu kesunyian malam,
Menunggu datangnya kembali di pelataran rindu.

