Pendidikan Dalam Pusaran Modernisasi
Pendidikan Dalam Pusaran Modernisasi
Kondisi pandemi yang terjadi pada awal bulan Januari tahun 2020 sampai memasuki tahun 2022 telah menimbulkan banyak perubahan di segala bidang. Terutama bidang pendidikan yang juga terkena imbasnya. sistem pendidikan, pola pendidikan berubah secara drastis. Pembuatan kurikulum darurat harus dilaksanakan agar pendidikan tetap berjalan di tengah pandemi.
Seiring kondisi di tengah modernisasi saat ini tidak dapat dielakkan bahwa kita sebagai insan pendidikan harus mampu mengikuti arus kemajuan zaman agar tidak tertinggal dengan negara lain. Kondisi ini menuntut semua elemen untuk mengerahkan segala daya kemampuan untuk bergerak menjadikan kondisi ini tantangan atau pelarian. Siapa yang mau berusaha, berjuang, berani melangkah akan tetap bisa bertahan. Namun siapa yang terlena atau luluh dalam kondisi dia akan tergerus masuk dalam pusaran arus yang mematikan.
Di tengah modernisasi saat ini berbagai inovasi pendidikan yang berkaitan dengan dunia digital banyak ditemukan dalam rangka memenuhi target kebutuhan di bidang pendidikan. Pendidikan harus tetap berlangsung dengan kondisi apapun. Namun pada kenyataanya hasil modernisasi yang berkaitan dengan kemajuan pendidikan tidak sepenuhnya bisa dirasakan oleh para insan pendidikan. Masyarakat yang mempunyai kemampuan finansial mencukupi bahkan yang memiliki finansial yang lebih, mereka dapat menikmati dan menuntut ilmu semakin cepat dan merasakan pendidikan hasil modernisasi.
Berbeda dengan kondisi masyarakat yang berada di kalangan bawah dan terisolasi dari perkotaan. Mereka masih belum bisa mendapatkan pendidikan yang selayaknya. Akhirnya yang terjadi adalah ketimpangan sosial dalam bidang pendidikan. Yang pintar akan semakin pintar dan yang lemah akan semakin lemah. Kondisi ini harus segera bisa ditangani dengan baik jika tidak ingin masa depan bangsa hancur. Kebudayaan berbagi, toleransi, gotong royong saling membantu harus selalu dikobarkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan budi pekerti, pembentukan karakter melalui pembiasaan harus semakin diperkuat.
Masalah pendidikan yang terjadi saat ini sangat kompleks. Kesejahteraan guru terutama guru honorer di Indonesia masih sangat perlu diperhatikan. Begitu banyak guru yang masih kekurangan padahal pendidikan mereka adalah minimal sarjana. Banyak pengangguran terdidik di negeri ini. Pendidikan untuk mencetak sarajana atau bekal hidup agar bisa hidup dengan layak. Sarjana atau pasca sarjana seakan banyak yang tak mempunyai arti dikala tak mampu memberdayakan dirinya sendiri. Jika hal ini berjalan terus maka bisa dimungkinkan lembaga pendidikan formal akan kehilangan peminat dan minat untuk sekolah atau mengenyam pendidikan lebih tinggi akan semakin menurun.
Maka mengahadapi masalah itu lembaga pendidikan harus mempu memberikan sesuatu yang bermakna bagi bekal kehidupan para generasi muda yang akan menghadapi tantangan begitu besar. Jika semua insan pendidikan tidak bisa bergerak cepat dan mengerahkan segala daya kreatifitasnya, kemampuanya, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang bisa menjawab tantangan zaman.
Era memang sudah maju dan serba canggih namun banyak masyarakat yang belum bisa mengimbanginya. Akhirnya yang terjadi adalah culture shock yaitu keterjutan budaya. Masyarakat tidak siap dengan kondisi yang serba maju maka mereka tidak bisa mengikuti perkembangan zaman yang ada, tapi akan menjadi masalah bagi mereka. Sebagai contoh masyarakat yang tidak bisa mengikuti perkembangan (tukang ojek konvensional) maka akan bisa kalah bersaing dengan mereka yang sudah bisa memanfaatkan adanya gojek online.
Banyaknya media /aplikasi/ platform pendidikan yang sebenarnya bisa digunakan oleh para peserta didik namun masih banyak yang belum bisa menggunakanya/ memanfaatkan kemudahannya dikarenakan faktor finansial yang rendah, jaringan internet yang kurang memadai. Dan mindset yang belum siap akan perubahan menjadikan mereka salah arah dan terjerumus padahal-hal yang tidak diinginkan. Jombang 12/02/2022

