Dari Bosphorus Menatap Pesona Dua Dunia

Bosporus adalah selat yang menghubungkan Istanbul bagian Asia dengan Istanbul bagian Eropa

Dari Bosphorus Menatap Pesona Dua Dunia
Dari Bosphorus Menatap Pesona Dua Dunia
Dari Bosphorus Menatap Pesona Dua Dunia
Dari Bosphorus Menatap Pesona Dua Dunia
Dari Bosphorus Menatap Pesona Dua Dunia

DARI BOSPHORUS MENATAP PESONA DUA BENUA
Oleh : Siti Yuliati

Turki saat ini menjadi negara yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan manca negara, termasuk Indonesia. Apalagi Akhir desember 2021 lalu pemerintah Turki memberlakukan bebas Visa bagi warga negara Indonesia yang ingin melancong ke sana. Turki memang layak dikunjungi, karena alamnya sangat indah, budayanya menarik, peradabannya luar biasa dan letak geografis negaranya sangat unik karena berada di antara dua benua, Asia dan Eropa. Dan di antara dua benua itu ada selat yang sangat fenomenal dan bersejarah yaitu Selat Bosphorus yang berada di Istanbul. Maka dikatakan, kita belum ke Istanbul kalau belum mengelilingi selat ini. 

Bosphorus adalah sebuah selat dengan panjang 30km, yang menghubungkan Istanbul bagian Eropa dengan bagian Asia, diapit oleh Laut Marmara di sebelah Selatan dan Laut Hitam di bagian Utara. Selain itu ada tiga jembatan besar melintasi selat ini yang menyatukan dua benua tersebut, yaitu jembatan Bosphorus (Bosphorus Bridge), Fatih Sultan Mehmet Bridge (Bosphorus 2) dan Yafuz Sultan Selim Bridge (Bosphorus 3). Bosphorus masa silam menjadi saksi sejarah jatuhnya Konstantinopel ke tangan pasukan Islam yang dipimpin Sultan Muhammad Alfatih. 

Jum’at (3/12/21) sore hari saya dan suami berkesempatan Cruise Tour menjelajahi selat bosphorus. Perjalanan berkeliling selat Bosphorus ini ditempuh dalam waktu 2 jam lebih. Starting point dari Ahirkapi Pier, tour selat Bosphorus ini diawali dari sisi Eropa terlebih dahulu, lalu pulangnya berbalik ke sisi Asia. Dari sisi Eropa eksotisme pertama yang ditawarkan adalah kemegahan Blue Mosque, disusul Aya Sofia dan Istana Topkapi. 

Kapal wisata terus melaju ke teluk Golden Horn (Tanduk Emas) hingga sampai di bawah jembatan Galata (Galata Bridge). Jembatan Galata adalah jembatan yang membentang di teluk Tanduk Emas, menghubungkan Eminonu dengan Karakoy. Jembatan ini bertingkat dua. Tingkat pertama berupa jembatan yang digunakan untuk pejalan kaki, lintasan mobil dan trem yang membawa penumpang dari daerah Sultanahmet ke Kabatas/Taksim. Adapun Jembatan Galata bagian bawah digunakan sebagai tempat kuliner. Disini banyak kafe dan restoran yang menawarkan hidangan laut. 

Selanjutnya dari kapal terlihat Galata Tower (Galata Kulesi dalam Bahasa Turki)  yang tinggi menjulang di atas bukit.  Galata Tower adalah sebuah menara batu abad pertengahan terletak di bagian utara Tanduk Emas. Setelah melalui Tanduk Emas kapal memutar lagi ke selat Bosphorus, pemandangan indah lainnya pun tersaji. Hamparan bangunan dengan arsitektur yang indah yang berada di tepian dan di atas bukit, kapal-kapal yang berlalu lalang dan burung-burung camar yang beterbangan di sekitar kapal seolah segerombolan pasukan yang ingin mengiringi kami berlayar. 

Suara Tour Guide terdengar jelas dari microfonnya, menjelaskan dengan detail sejarah tiap-tiap infrastuktur yang kami lalui dengan bahasa Inggrisnya yang fasih. Kami memilih di dek atas agar bisa leluasa menyapu bersih semua pemandangan di sekeliling Bosphorus. Seperti mimpi dalam waktu bersamaan berada di antara dua benua. Memandang Eropa membokongi Asia, begitu pun sebaliknya memandang Asia membokongi Eropa. Suguhan pemandangan yang sangat indah, membuat mata ini tak ingin berkedip sedetikpun. Ya Tuhan, kuasa-Mu sungguh menawan, keindahan ini tak cukup digambarkan dengan kata-kata.

Istana-istana indah seperti Istana Dolmabahce yang megah dan Istana Ciragan yang bergaya arsitektur Eropa berdiri kokoh di tepian pantai. Masjid Ortakoy dengan kubah dan menara yang menjulang terlihat elegan di antara ruang publik lainnya. Ada juga taman, perumahan, hotel, restoran dan kafe. 

Kami terus berlayar hingga kapal yang kami tumpangi tepat berada di bawah jembatan Bosphorus yang memiliki panjang 1.074 meter. Di sinilah, Benua Eropa dan Asia tersambungkan. Di wilayah Eropa, pancang kaki jembatan Bosphorus berada di wilayah Ortakoy, sementara di Asia berpijak di kawasan Beylerbeyi. 

Pelayaran terus berlanjut, hingga terlihat Benteng Rumeli Hisari yang kokoh dihiasi pohon-pohon rindang, terlihat juga Jembatan Fatih Sultan Mehmet mencengkram sisi Eropa dan Asia. Benteng Rumeli Hisari terletak di sebuah bukit, benteng ini dibangun oleh Sultan  Mehmed II antara tahun 1451 dan 1452, sebelum penaklukan  Konstantinopel. Sementara jembatan Fatih Sultan Mehmet dibangun pada tahun 1988. Jembatan ini memiliki panjang 1.090 meter. Di sinilah akhir pelayaran kami dari sisi Eropa, lalu kapal berbelok ke tepian Asia. 

Kalau dari sisi Eropa ada benteng Rumeli Hisari maka dari sisi Asia ada benteng Anadolu Hisari atau Kastil Anatolia. Benteng Anadolu Hisari dibangun antara tahun 1393 dan 1394 oleh Sultan Utsmaniyah Bayezid I sebagai bagian dari persiapannya untuk Pengepungan Konstantinopel yang berlangsung pada tahun 1395. Melihat dua benteng tersebut terbayang bagaimana semangat jihad para Sultan Utsmani dahulu dalam menyongsong kejayaannya di masa silam. Dari bibir selat sisi Asia ini terlihat pula deretan rumah tua begitu cantik dan eksotik. Di belakangnya terlihat indah rumah penduduk yang padat memenuhi bukit-bukit. 

Tak terasa sudah satu jam lebih berlayar di selat ini, hembusan angin semakin kencang dan dingin menusuk ke tulang. Saya pun turun ke lantai bawah namun tetap menikmati pemandangan Asia dari jendela kaca, sambil menyeruput kopi Turki yang dipesan suami. Di sisi ini pun suguhan pemandangan bangunan megah tak kalah menariknya, diantaranya Kucuksu Pavilion, Kuleli Millitary, Beylerbeyi Palace, Camlica Hill, Camlica Mosque, pelabuhan Uskudar, Haydarpasa Train Station tampak gagah memesona.

Pemandangan senja pun muncul, sunset terlihat dari teluk Golden Horn. suami yang berada di luar sejak awal dapat menangkap sunset dengan kameranya, langit menjingga  menambah luar biasanya pelayaran ini. Tak berapa lama sampailah kami di dermaga, kapalpun berlabuh. Semua wisatawan turun, hari pun seketika menjadi malam. Walau sudah kelelahan ditambah muka kusut kami sempatkan sebentar untuk berfoto di jembatan Galata. Masyaallah, terima kasih Tuhan atas keindahan tak ternilai ini.