Berawal dari Postingan Status Whatsapp
Hari rabu tanggal 19 Januari 2022 saya telah memosting sebuah status di Whatsapp yaitu “memaafkan adalah sikap mulia, memaafkan diri sendiri adalah lebih utama.”
Ternyata dari postingan tersebut, tidak diduga banyak dari teman-teman saya berkomentar. Salah satunya menanyakan tentang maksud dari memaafkan diri sendiri itu bagaimana? Mulanya saya hanya memberikan icon emosi tertawa saja. Namun ternyata itu menjadi tanda tanya atas jawaban saya.
Memaafkan merupakan salah satu cara seseorang untuk melepaskan sesuatu yang tidak berkenan di hati, marah, benci, kesal dan keinginan untuk membalas pada orang lain. Dan tentu saja memaafkan ditujukan untuk orang lain.
Lantas, bagaimana memaafkan bagi diri sendiri?
Kehidupan ini begitu banyak intrik dan lika liku kehidupan. Terkadang, ada hal yang membuat kita menyesal dan merasa bersalah atas tindakan yang kita lakukan sendiri. Manusia tentu saja tempatnya dosa dan tempatnya salah. Terkadang dengan perbuatan yang pernah kita lakukan dan membuat hati tidak nyaman, sulit bagi kita untuk menerima hal tersebut.
Rasa bersalah yang muncul dari kesalahan tersebut yang berujung penyesalan dan nestapa di hati. Meskipun kita sebenarnya sudah tahu bahwa waktu tidak dapat berputar kembali dan mengubah penyesalan yang sudah dilakukan.
Memaafkan diri sendiri adalah jalan keluar terbaik bagi rasa bersalah dan penyesalan. Yang terbaik adalah menjadikan pengalaman masa lalu menjadi pelajaran agar tidak mengulang hal yang sama. Memaafkan diri sendiri atas yang dilakukan di masa lalu, menjadi satu di antara jalan terbaik untuk mendapatkan hal baik di masa mendatang. Merelakan masa lalu yang sudah terjadi dan dapat mengambil hikmat atas yang terjadi dalam hidup kita.
Ada banyak cara untuk memaafkan diri sendiri yaitu dengan cara berhenti menyalahkan dan menghukum diri sendiri, meminta pengampunan pada Allah atas perbuatan yang sudah kita lakukan, berhenti mengingat-ingat kesalahan yang sudah dilakukan, fokus pada saat ini dan masa depan bukan masa lalu kita, dan tentu saja tidak mengulang kesalahan yang sama. Tentu saja, masalah yang datang menghampiri kita tentu saja Allah yang menciptakan dan Allah pula yang dapat mengatur jalan keluarnya (baca=pasrah). Dengan begitu, kita dapat menapaki hari-hari kita dengan baik dan tanpa penyesalan dalam hati.

