Perayaan Imlek Di Indonesia Bukti Indahnya Kepribadian Bangsa Indonesia
Pada hari Selasa tanggal 1 Februari 2022 merupakan hari istimewa bagi kaum Tionghoa. Karena hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dan merupakan perayaan terpenting bagi orang Tionghoa. Namun perayaan Imlek tahun ini berbeda dengan sebelumnya karena bangsa Indonesia bahkan dunia masih dalam kondisi yang belum stabil yaitu masih dalam kekhawatiran virus corona yang masih mengalami mutasi sehingga masih belum dapat dirayakan seperti biasanya.
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama (Hanzi), di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī yang berarti "malam pergantian tahun". (diansir dari: id.Wikipedia.org)
Di Indonesia yang dikenal sebagai negara yang pluralisme memberikan kesempatan kepada etnis Tionghoa untuk memeriahkan hari istimewa ini sama seperti etnis Tionghoa di berbagai negara lainnya. Perayaan Tahun Baru Imlek dilaksanakan oleh etnis Tionghoa-Indonesia sejak beratus-ratus tahun kedatangan mereka di Nusantara. Berbagai kelompok bahasa dan budaya Tionghoa mempunyai praktik perayaan yang berbeda-beda antara satu sama lainnya. Kelompok mayoritas Tionghoa-Indonesia adalah Hokkien, maka perayaan yang bercirikhas dari kelompok inilah yang paling dominan terlihat di Indonesia.
Bangsa Indonesia dikenal dengan negara multikulutral yang dapat hidup damai meski dengan berbagai perbedaan yang ada. Begitu banyak perbedaan yang ada di Indonesia mulai dari etnis(suku bangsa), agama, ras, profesi dan lain-lain namun dapat hidup berdampingan secara harmoni. Mereka udah terbiasa dengan perbedaan karena perbedaan merupakan kekayaan bangsa jika bisa dikelola dengan baik. Dan hal ini merupakan modal bangsa untuk menjadi negara yang maju.
Kepribadian bangsa Indonesia dikenal priadi yang sopan, saling menghormati, gotong royong harus kita pertahankan karena akhir-akhir ini mulai ada pihak-pihak tertentu yang sudah mulai berusaha memunculkan isu-isu yang memicu pertengkaran bahkan sesama agama atau kelompok tertentu.
Biasanya, perayaan tahun baru Imlek berlangsung sampai 15 hari. Satu hari sebelum atau pada saat hari raya Imlek, bagi warga Indonesia keturunan Tionghoa adalah suatu keharusan untuk melaksanakan pemujaan kepada leluhur, seperti dalam upacara kematian, memelihara meja abu atau lingwei (lembar papan kayu bertuliskan nama almarhum leluhur), bersembahyang leluhur seperti yang dilakukan pada hari Ceng Beng (hari khusus untuk berziarah dan membersihkan kuburan leluhur).
Di Indonesia, perayaan imlek sebenrnya sudah dilaksanakan sejak dulu namun selama tahun 1968-1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
Namun masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan tahun baru Imlek pada tahun 2000 ketika Presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Sejak itulah Gus Dur mendapatkan julukan bapak pluralisme.

