Urgensi Bahasa Ibu dalam Pembelajaran

Urgensi Bahasa Ibu dalam Pembelajaran

EDUSIANA-Bungoro (04 Desember 2024)

Bahasa pada dasarnya berasal dari bahasa Sangsekerta yakni asal kata Bhas' artinya merupakan kemampuan yang dimiliki oleh manusia untuk berhubungan dan atau berkomunikasi dengan manusia lainnya dengan menggunakan tanda (symbol) atau pun dalam bentuk gerak serta mimik. Menurut para ahli diantaranya ; Kridalaksana dan Joko Kentjono (dalam Chaer, 2014:32) bahasa merupakan sistem lambang bunyi  yang arbiter yang digunakan oleh sekelompok masyarakat sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri, sementara menurut Gorys Keraf (1997:1) bahasa adalah komunikasi antar anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Pendapat lainnya dari Fodor (1974) m Bahasa pada dasarnya adalah alat untuk berkomunikasi, secara etimologi bahasa berasal dari bahasa engatakan bahwa bahasa adalah sistem symbol dan tanda.

Berdasarkan pandangan para ahli tersebut menurut penulis bahasa pada intinya merupakan suatu alat untuk menyampaikan sesuatu dalam bentuk komunikasi baik dalam komunikasi satu arah maupun multi arah. Bagaimana jadinya dunia ini jika tanpa bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi, karena bahasa memegang peranan penting dalam melakukan interaksi baik, lokal terlebih secara global, boleh kita katakan bahasa merupakan salah satu kunci (keyword) dalam segala aspek kehidupan masyarakat termasuk dalam percaturan ekonomi, politik, sosial, budaya, pendidikan dan pertahanan keamanan.

Dalam tulisan secara sederhana penulis ingin mengurai secara sederhana terkait dengan bahasa Ibu, apa sebenarnya yang disebut dengan bahasa Ibu ? Dalam pengertian dan pandangan penulis bahasa Ibu merupakan bahasa lisan dan atau bahasa symbol yang menjadi alat komunikasi pertama dalam lingkup keluarga yang digunakan secara terbatas. Namun berdasarkan KKBI sebagaimana dikutip dari https://www.indonesiabaik.id  bahwa bahasa Ibu adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir lewat interaksi dengan anggota masyarakat bahasanya seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya, inilah yang sering diistilahkan dengan bahasa Ibu (Native Language atau Mother Language), dalam pandangan lainnya bahasa ibu dianggap berasal dari pengasuh, merawat, dan membesarkan kita secara tradisional itulah bahasa Ibu, dalam sebuah anekdot yang mengatakan kenapa disebut bahasa Ibu ? Karena bahasa itu lebih banyak digunakan oleh perempuan.

Bahasa Ibu dalam perspektif yang lain seperti dikutip dari https://www.kompasiana.com bahwa bahasa Ibu adalah bahasa utama dan pertama yang diajarkan oleh seseorang yang bertindak sebagai ibu atas seorang yang telah diasuhnya. Berdasarkan hal itu bahasa Ibu tidak mesti dan harus ibu kandung kita sendiri namun siapa yang awal menjadi pengasuh kita. Bahasa Ibu atau bahasa pertama (B1) menurut Nendeng Sri Lengkanawati ( Dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan, 2011:77) bahwa bahasa Ibu dalam pemerolehan prosesnya, anak tanpa sadar meniru apa yang dikatakan oleh orang dewasa tanpa mempertimbangkan dan mempelajari kaidah-kaidah gramatika, bahasa Ibu ini sangat terkait dengan kultur sosial suatu daerah. Sejalan dengan ini bahwa tempat tugas penulis secara geografis berada dalam suatu wilayah pesisir dengan kondisi bahasa daerah yang masih kental dan tradisional yakni penggunaan bahasa setempat ( bahasa Makassar ) sehingga lingkup sekolah tempat penulis bertugas hampir seluruhnya siswa berkomunikasi dengan bahasa setempat ( tutur bahasa Makassar ) sehingga dalam ruang-ruang belajar pun bahasa itu menjadi dominan, artinya bahasa Ibu (B1) menjadi bagian tak terpisahkan dalam kseharian meraka sementara bahasa Indonesia (B2) jaran dituturkan dalam komunikasi mereka.

Sementara dalam proses pembelajaran sehari-hari dikelas buku-buku teks adalah berbahasa Indonesia dan hal itu mutlak dipergunakan dalam konteks proses pembelajaran secara formal karena buku siswa dan buku guru kesemuanya dalam teks bahasa Indonesia termasuk buku-buku muatan lokal sekitar 65 % menggunakan bahasa Indonesia selebihnya adalah aksara lontara ( bahasa Makassar ), penulis sebagai pimpinana di sekolah sering menelaah secara sederhana beberapa buku teks terlebih saat ini masih dalam lingkup kurikulum merdeka, buku-buku teks tersebut dipenuhi dengan beberapa kata kata sulit dan kosa kata yang sangat sukar dicerna oleh siswa termasuk para guru, beberapa istilah ilmiah yang memerlukan kemampuan khsusus untuk mentranslatenya ke dalam bahasa setempat.

Dalam hal ini bukan berarti kita tidak setuju dan sepaham dengan isi dan konten buku-buku tersebut, namun dalam proses lahirnya buku tersebut diolah secara umum saja tanpa mempertimbangkan konteks wilayah serta karakteristik bahasa setempat, namun itu harus dipahami juga karena jika dilakukan maka akan menggunakan waktu dan proses yang lama. Untuk itu bagi para guru penulis anjurkan agar dalam proses pembelajaran upayakan bahasa Ibu tetap menjadi perhatian sebagai pendamping bahasa yang ada dalam teks buku dan materi pembelajaran tersebut.

Kekhawatirannya adalah jika isi buku diajarkan secara umum saja sehingga teks-teks pada kalimat buku tersebut akan berlalu begitu saja tanpa siswa memahami apa makna isi buku pelajaran tersebut tentunya jika ini terjadi maka pembelajaran terkesan ibarat fatamorgana saja semakin didekati semakin menjauh artinya semakin kita mengajarkannya akan semakin membuat para siswa kita tidak  memahami isi dan konten buku pelajaran itu. Selanjutnya terkadang juga disarankan agar konteks pembelajaran tersebut lebih faktual dengan format alam takambang maksudnya isi buku yang ada dikaitkan dengan karakteristik tempat dan lingkungan sekolah.Secara teori bahwa bahasa merupakan bahasa pengantar yang paling efektif untuk menemukan dan memahami apa saja termasuk dalam proses pembelajaran sehingga dalam hal ini bahasa Ibu merupakan hal yang wajar dan lumrah untuk kita jadikan sebagai bagian dari pengantar untuk berkomunikasi termasuk dalam ruang-ruang publik, ruang-ruang keluarga serta ruang-ruang kelas itu sendiri, ini juga merupakan salah satu upaya dalam rangka merawat bahasa Ibu (B1) ini agar tetap ada dalam bingkai kehidupan kita dan menghindarkan dari kepunahan.

* Penulis adalah Kepala UPT SDN 26 Jollo pesisir, Desa Bulu Cindea, Kecamatan Bungoro, Kab. Pangkajene dan Kepulauan Provinsi Sulawesi Selatan.