Kisah Abuya Imam Syamsuddin Sangkalan Menjawab Pertanyaan Pendeta
Edusiana - Singkil - (Sabtu/23 November 2024) Abuya Imam Syamsuddin adalah seorang ulama besar Aceh, lahir di Blangporoh Labuhan Haji Aceh Selatan (1925 M-1971 M).
Beliau merupakan murid dari Abu Syekh Mahmudin pimpinan pesantren Bustanul Huda Blangpidie atau lebih dikenal dengan Abu Syeh Mud Blangpidie.
Setelah belajar pada Abu syeh Mud, Abuya Syamsuddin pulang ke labuhan haji dan belajar sama Abuya Muda Wali Alkhalidi, seorang ulama asal Sumatra Barat yang sangat terkenal dengan kealimannya.
Ketika belajar sama Abuya Muda Wali, beliau mendalami kembali ilmu agama terutama bidang Fiqih, Tauhid, Tasawuf dan Mantik, konon pada saat itu belum ada yang mengajar ilmu Mantiq di Aceh.
Dalam bimbingan Abuya Muda Wali beliau tumbuh hingga menjadi seorang ulama besar.
Dibidang Thariqat, beliau salah satu ulama penganut thariqat Naqsyabandiyah, hal itu bisa dilihat sampai sekarang masih ada kegiatan suluk-tawajuh di pesantren peninggalan beliau.
Disamping itu, Abuya Imam Syamsuddin adalah penganut thariqat Syaziliyah, hal itu bisa kita temui dari kitab-kitab peninggalan beliau bahwa thariqat Syaziliyah yang beliau miliki bersanad langsung kepada Abuya Muda Wali Alkhalidi.
Ada satu kisah, pada suatu hari datang seorang pendeta ke pesantren Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan, tujuan kedatangannya adalah untuk menanyakan tentang ketuhanan kepada Abuya Muda Wali.
Tentu dengan kapasitas ilmu yang dimilikinya, Abuya Muda Wali sanggup menjawab pertanyaan pendeta tersebut, akan tetapi, Abuya menyuruh dewan guru untuk menjawab pertanyaan pendeta tersebut.
Namun tak ada satupun dewan guru yang mampu menjawabnya, lalu Abuya muda wali menyuruh salah satu dewan guru untuk memanggil Abuya Imam Syamsuddin yang sedang mengajar murid-muridnya di lokal.
Setiba di sana, Abuya muda Wali menyuruh menjawab pertanyaan dari pendeta kepada Abuya Imam Syamsuddin.
"Adakah tuhan itu dan dimanakah dia berada ?" tanya pendeta.
Lalu Abuya Imam Syamsuddin mengambil korek api dan menghidupkannya.
"Apakah api ini ada ?" Tanya Abuya Syamsuddin. " "Ada" jawab pendeta.
Lalu Abuya Syamsuddin meniup api korek tersebut sehingga padam.
"Korek ini saya padamkan, apinya kemana ?" Tanya Abuya Syamsuddin kepada pendeta. Lalu pendeta itu diam.
"Begitulah tentang wujud zat Tuhan, tidak nampak pada mata akan tetapi wujudNya Ada" lanjut Abuya Syamsuddin.
Diantara murid-murid beliau adalah Abuya Muhibbudin Wali, Abuya Kiyai Jamaluddin Wali, Abu Amran Wali, Abu Tumin Blang Bladeh, Abu Nurdin Nisam, Abu Hasballah Nisam dan banyak ulama-ulama lain di Aceh hampir umumnya pernah berguru sama beliau baik secara langsung atau tidak langsung.
Setelah Abuya muda wali wafat, beliau pernah memimpin pesantren Darussalam Labuhan Haji selama lebih-kurang tiga tahun, kemudian beliau pulang ke Sangkalan memimpin pesantren Babussalam yang sebelumnya diberi nama Darul Aman.
Akhirnya, beliau wafat di Sangkalan 28 Juni 2024 M dan dimakamkan di komplek pesantren Babussalam. Semoga Allah SWT mempertempatkan beliau dalam surgaNya.
Penulis Berita : Ust. Sayuti Is.
Foto Abuya Haji Imam Syamsuddin pimpinan pesantren Babussalam Sangkalan

