Kenapa Istanbul

Negeri impian yang dirindukan

Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul
Kenapa Istanbul

KENAPA ISTANBUL?
Oleh : Siti Yuliati

Seperti kata kinan: “It’s My Dream, not her’s, begitulah kiranya ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kerinduan terhadap negeri yang telah lama saya impikan, Istanbul Turki. Bagaimana tidak, setelah 16 tahun impian itu baru terwujud. Berawal dari sebuah Thesis yang ditulis oleh suami saya yang berjudul “Penaklukkan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Alfatih”, tahun 2005, saya jadi banyak tahu tentang  sosok Sultan Muhamad Alfatih dan negeri yang ditaklukkannya. Dari sinilah impian itu berawal.

Sosok Alfatih yang menginspirasi ini kemudian kami abadikan namanya untuk nama anak pertama kami yaitu “Muhamad Alfatih Kostantin Hakim”. Kenapa Kostantin bukan Konstantinopel, karena kami mengambilnya dari sebuah diksi dalam hadits Nabi Saw  قسطنطينيةَ. Tentunya nama ini menjadi doa terbaik untuk putra kami semoga ia bisa sehebat namanya. 

Waktu terus berjalan, suami melanjutkan study S3 dan menggarap penelitian Disertasi tentang “Military Aligment Kerajaan Aceh Darussalam dengan Kerajaan Usmani”. Kerinduan akan Istanbul semakin membuncah, diiringi keyakinan semoga tidak lama lagi kami akan sampai di sana bagaimanapun caranya.

Singkat kata, Allah mudahkan kami mewujudkan impian ini, tibalah kami di Istanbul pada akhir tahun 2021 kemarin. Bergemuruh melihat pemandangan Masjid Aya Sofia yang memukau, air mata ini mengalir deras tanpa bisa dikendalikan. Ketika menengadah mendekati mihrab nampak kain putih menutupi mozaik Bunda Maria dan Yesus yang berada di arah kiblat. Rasanya tak percaya bisa salat di dalam masjid yang menjadi ikon negara Turki ini. Dikisahkan, ada seorang Rusia yang berkunjung kesini mendeskripsikan kekagumannya dengan berkata : “Kami tidak tahu apakah kami berada di Surga atau di Dunia, karena tidak ada keindahan semacam ini di dunia dan kami kehilangan kata untuk menggambarkannya.”

Berhadapan dengan Aya Sofia ada Blue Mosque (Masjid Sultan Ahmed I) yang dipisahkan oleh sebuah taman. Blue Mosque dibangun oleh Sultan Ahmed I untuk menandingi bangunan Aya Sofia. Aya Sofia dan Blue Mosque saat ini merupakan pusat destinasi wisata paling populer di Istanbul Turki.

Kendati demikian, yang paling memikat hati ini datang ke Istanbul adalah berziarah ke makam Sultan Mehmed II yang bergelar Alfatih. Alfatih artinya “Sang Penakluk” karena berhasil menaklukkan Konstantinopel. Dengan Berjalan kaki kami menuju kesana sambil menikmati keindahan kotanya yang menyimpan banyak kenangan peradaban Islam. Berhubung jalan jalan di istanbul banyak tanjakan cukup membuat nafas kami tersengal, beruntungnya sedang musim dingin jadi tidak membuat badan berkeringat dan kelelahan.

Komplek Masjid Sultan Muhammad Alfatih (Turki: Fatih Cami) terletak di distrik Fatih. Masjid ini termasuk salah satu masjid terbesar di Istanbul, namun masjid bersejarah ini tidak semasyhur Blue Mosque dan Aya Sofia, sebab Masjid Fatih tidak terletak di pusat wisata Istanbul sekitaran Aya Sofia dan Sultan ahmed. 

   Dari pintu gerbang masuk komplek Masjid sudah terlihat bagian belakang bangunan makam Sultan yang terpisah dari masjid. Untuk memasukinya kami harus berputar melewati luasnya bangunan masjid. Makamnya dikelilingi pagar kaca dan berada dalam sebuah bangunan yang bersih. Barangkali semua peziarah akan merasa terharu dan emosional ketika berada di sini sama seperti yang saya rasakan. Seolah merasakan karisma sang Sultan, suasana terasa khusyuk, alunan ayat-ayat suci dan doa terus teruntai dari para peziarah.

Mata ini terbelalak ketika melihat pada bagian dinding yang tepat berada di atas kepala makam ada hiasan kaligrafi yang bertuliskan hadits Nabi yang berbunyi : 
تُفتَحنَّ القُسطنطينيةُ ولنِعمَ الأميرُ أميرُها ولنعم الجيشُ ذلك الجيشُ
“Kota Konstantinopel akan ditaklukkan. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukannya adalah sebaik-baik pasukan.” (HR Ahmad bin Hanbal)

Hadits inilah yang telah membakar semangat juang kaum muslimin pada tiap generasi untuk menaklukkan negeri tersebut. Dimulai dari shahabat Abu Ayyub Al Anshari, kemudian khalifah Sulaiman bin Abdul Malik dari bani Umayyah, khalifah Harun Ar Rasyid dari Bani Abbasiyah, Sultan Bayazid I serta Sultan Murad II dari kekhalifahan Ustmaniyah telah melakukan ikhtiar yang maksimal untuk menaklukkan konstantinopel, namun belum berhasil.

Barulah setelah delapan abad berlalu tepatnya pada tahun 1453 M, Konstantinopel berhasil ditaklukan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya. Terbuktilah apa yang pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw adalah benar.

Konstantinopel adalah kota impian para penguasa di zaman itu. Pada masa tersebut, konstantinopel dianggap sebagai kota terbesar, terkaya, dan terindah. Semua dikarenakan posisi strategisnya yang berada di jalur utama perdagangan antara laut Aegean dan laut Hitam. Posisi yang strategis serta keindahan yang dimiliki oleh Konstantinopel digambarkan oleh Napoleon Bonaparte dalam sebuah kalimat: “kalaulah dunia ini sebuah negara maka Konstantinopel lah yang paling layak menjadi ibu kota negara.”

Strategi jenius yang dilakukan Alfatih adalah strategi kejutan yang belum pernah dilakukan oleh pemimpin manapun sebelumnya. Tujuh puluh kapal diseberangkan melalui bukit Galata hanya dalam satu malam, saking hebatnya Sastrawan Yoilmaz Oztuna berkata, “Tidaklah kami pernah melihat atau mendengar hal ajaib seperti ini, Mehmed telah menukar darat menjadi lautan dan melayarkan kapalnya di puncak gunung sebagai pengganti gelombang-gelombang lautan. Sungguh kehebatannya jauh melebihi  apa yang pernah dilakukan oleh Alexander The Great.” ..

Maka jika ditanya siapa raja paling hebat dalam sejarah, nama Sultan Muhamad Alfatih termasuk satu diantaranya.” Wallahu A’lam