Perubahan sebagai konsekuensi dari penerapan Kurikulum Merdeka

Perubahan sebagai konsekuensi dari penerapan Kurikulum Merdeka

Penerapan kurikulum merdeka tentunya akan memberikan konsekuensi perubahan bagi satuan pendidikan. Dikutip dari chanel Kurikulum GTK yang disampaikan oleh Bapak Anindito Aditomo selaku Kepala BSKAP, Konsekuensi yang paling penting adalah Bapak/Ibu guru belajar memahami filosofi dan paradigma yang melandasi kurikulum merdeka dan menerjemahkan kurikulum merdeka menjadi kurikulum operasional yang sesuai dengan karakteristik masing-masing satuan pendidikan.

Tiga hal yang perlu diketahui untuk menerjemahkan kurikulum merdeka menjadi kurikulum operasional

1. Menerjemahkan capaian pembelajaran menjadi alur tujuan belajar

Dalam kurikulum merdeka, kompetensi yang ingin dibentuk dirumuskan sebagai capaian pembelajaran yang lebih terintegrasi. Hal ini berbeda dari kurikulum sebelumnya yang memisahak kompetensi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Hal ini karena dianggap bahwa sebuah kompetensi selalu merupakan perpaduan dari ketiga dimensi tersebut dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri. Selain itu dalam kurikulum merdeka capaian pembelajaran tidak ditetapkan setiap tahun melainkan setiap fase. Fase tersebut bisa 1 tahun, 2 tahun atau 3 tahun. Karena ditetapan per fase maka capaian pembelajaran harus diterjemahkan menjadi kompetensi-kompetensi yang lebih kecil yang dapat di capai dalam periode waktu yang lebih singkat. Dengan kata lain satuan pendidikan harus merumuskan alur tujuan pembelajarannya sendiri.

 

2. Merancang pembelajaran berbasis projek

Hal lain yang diperlukan oleh satuan pendidikan untuk menerjemahkan kurikulum merdeka menjadi kurikulum operasional adalah merancang pembelajaran berbasis projek. Struktur kurikulum merdeka dibagi menjadi 2 yaitu intrakurikuler dan kokurikuler. Pembelajaran berbasis projek masuk kedalam bagian kokurikkuler. Ada 3 ciri pembelajaran berbasis projek, yaitu: 1) Pembelajaran bersifat lintas mata pelajaran sehingga mendorong murid untuk melihat keterkaitan materi antara satu pelajaran dengan pelajaran yang lainnya. 2) Bersifat aplikatif, bukan berbasis teks saja melainkan dirancang untuk menyelesaikan masalah, menjawab isu tertentu, atau membuat karya seperti karya seni, pertunjukan, atau produk yang bermakna. Dengan demikian, murid melihat bahwa ilmu pengetahuan bisa relevan bagi kehidupan mereka. 3) Dilakukan dalam kelompok sehingga memberi kesempatan belajar bagi murid untuk berkomunikasi, berkolaborasi termasuk di dalamnya menyelesaikan perbedaan pendapat dan konflik. Murid juga menjadi lebih madiri dalam mengelola proses belajaranya. Dalam pembelajaran Projek tidak harus menggunakan teknologi atau fasilitas yang canggih. Projek yang paling baik adalah yang sesuai dengan kondisi dan konteks lokal.

 

3. Menyusun struktur kurikulum operasional untuk satuan pendidikan

Dalam kurikulum merdeka, jam pelajaran tidak dikunci perminggu melainkan ditentukan per tahun. Satuan pendidikan perlu memutuskan bagaimana membagi jam pelajaran ini di dalam kurikulum operasionalnya. Jam pelajaran ini boleh dibagi rata setiap minggu atau juga boleh mencoba model yang berbeda. Penentuan pembagian jam pelajaran ini harus dirumuskan bersama-sama seluruh guru yang akan menerapkan kurikulum merdeka. Selain itu ada beberapa perubahan yang khas di setiap jenjang yang harus diakomodasi dalam kurikulum operasional. Misalnya untuk jenjang SD dan sederajad ada pilihan untuk memasukkan bahasa Inggris sebagai pelajaran pilihan. Untuk jenjang SMP dan sederajad ada mata pelajaran informatika yang sekarang menjadi wajib. Seadngkan untuk jenjang SMA dan sederajad tidak ada lagi peminatan IPA, IPS dan Bahasa melainkan diganti menjadi pilihan mata pelajaran di kelas 11 dan 12.

<Mada>