Buku Harian di Attic Tua
Di sebuah rumah tua yang terletak di pinggiran kota kecil, hiduplah seorang gadis muda bernama Alice. Rumah itu telah menjadi milik keluarganya selama generasi-generasi. Di sudut loteng yang tersembunyi, Alice menemukan sebuah ruang kecil yang tertutup debu dan penuh dengan kotak-kotak berdebu yang terabaikan. Di antara berbagai barang lama yang tak terhitung jumlahnya, ada satu kotak tua yang menarik perhatiannya. Di dalamnya, tergeletak sebuah buku harian tua dengan kulit keras berwarna cokelat yang usang.
Hari Pertama
Alice membawa buku harian itu turun ke kamarnya. Dengan hati-hati, ia membuka halaman pertama dan menemukan catatan yang ditulis dengan tinta hitam yang halus. **“Buku Harian Milik Adelaide Green, 1923,”** demikian tertulis di halaman pertama. Alice terpesona membaca cerita tentang kehidupan sehari-hari Adelaide, seorang gadis muda pada zamannya. Ia membaca tentang petualangan Adelaide di kebun belakang, tentang pertemuan dengan teman-teman sekolahnya, dan tentang mimpi dan harapannya untuk masa depan.
Hari Kedua
Alice kembali ke loteng, kali ini dengan lebih bersemangat. Ia menemukan bahwa buku harian itu bukan hanya tentang kehidupan Adelaide, tetapi juga tentang dunia yang begitu berbeda dari dunia Alice sendiri. Ia menemukan surat cinta yang tak terbalas, tentang perselisihan keluarga yang pelik, dan tentang kekecewaan dan kegembiraan yang dirasakan Adelaide.
Hari Ketiga
Alice tidak bisa melepaskan buku harian itu dari tangannya. Ia membawa buku harian itu ke mana pun ia pergi, membacanya di bawah pohon di halaman belakang, di bawah cahaya lampu malam, dan bahkan di kelas saat guru sedang tidak memperhatikan. Semakin ia membaca, semakin ia merasa terhubung dengan Adelaide. Kehidupan Adelaide yang terasa begitu jauh dari dirinya sendiri menjadi semakin dekat dan bermakna baginya.
Hari Keempat
Alice menemukan halaman terakhir buku harian itu. Ada satu catatan terakhir yang ditulis dengan tinta yang kian luntur. **“Hari ini, saya menemukan sebuah kotak tua yang penuh debu di loteng. Di dalamnya, saya menemukan buku harian lama yang saya simpan selama bertahun-tahun. Saya terharu melihat kembali kenangan-kenangan indah masa lalu yang saya tulis di dalamnya. Sekarang, buku harian ini telah menjadi bagian dari saya, saksi bisu dari kehidupan yang saya jalani. Mungkin suatu hari nanti, seseorang akan menemukan buku harian ini dan merasa seperti saya. Adelaide Green, 1937.”**
Alice merasa terharu dan tersentuh oleh kata-kata terakhir Adelaide. Ia menyadari bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan cerita, dan buku harian itu adalah jendela ke masa lalu yang membuka matanya akan kehidupan yang lebih besar dari dirinya sendiri.

