Belajar Menjadi Sang Penuntun ; Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Belajar Menjadi Sang Penuntun ; Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara, atau lebih dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional, bukan sekadar seorang pendidik, tetapi juga seorang pemikir yang visioner yang memperjuangkan pendidikan yang merdeka, inklusif, dan berkualitas untuk semua lapisan masyarakat. Pemikirannya tidak hanya relevan bagi masa lalunya, tetapi juga memberikan inspirasi bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Melalui tulisan ini, kita akan menjelajahi konsep-konsep kunci dalam pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang perbedaan antara pendidikan dan pengajaran. Kita akan melihat bagaimana Ki Hajar Dewantara memahami pendidikan  lebih dari sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembebasan dan pemberdayaan individu. Kita akan mengeksplorasi bagaimana pendekatan holistik, nilai-nilai nasionalisme, dan penghormatan terhadap budaya lokal memainkan peran penting dalam visi pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Sebelum memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara secara lebih mendalam, pemahaman saya tentang pendidikan mungkin belum sepenuhnya menyadari pentingnya keterlibatan aktif murid dalam proses pembelajaran dan betapa pentingnya konteks sosial dalam pendidikan. Saya mungkin belum sepenuhnya memahami bagaimana pendidikan dapat menjadi alat untuk pembebasan mental dan sosial, serta bagaimana pendidikan harus menciptakan warga negara yang bertanggung jawab dan peduli terhadap masyarakat dan bangsa.

Dalam tataran praktik, sebagai pendidik, saya terkadang terkendala oleh beberapa hal. Pertama, saya masih memahami perangkat kurikulum pendidikan dari sudut pandang administratif yang kaku atau tidak luwes. Kurukukum sering dipahami sebagai perangkat administratif saja bukan sebagai sebuah penuntun kearah pencapaian tujuan pendidikan. Kedua, sebagai pendidik, saya belum memiliki pemahaman terhadap konsep pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara secara komprehensif. Salah satu dampaknya adalah kegiatan pembelajaran yang saya lakukan masih berfokus pada kompetensi dasar yang bersifat akademik semata, sehingga indikator keberhasilannya hanya diukur dari pencapaian kriteria ketuntasan minimal yang berupa angka atau nilai saja. Ketiga, sebagai pendidik, saya belum memiliki pemahaman bagaimana teknik transfer pengetahuan sesuai konsep pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang salah satunya adalah mengakulturasikan nilai sosio kultural sebagai kekuatan dalam peningkatan proses pembelajaran di sekolah. Keempat, munculnya stereotip negatif yang dipengaruhi oleh ketidakpahaman dan ketidaksabaran dalam menghadapi keunikan karakter muird. Opini dari luar diri (rekan sejawat, murid lain) yang juga memengaruhi dan membenarkan label negatif kepada murid tersebut. Hal ini memunculkan penghakiman sepihak yang tidak baik kepada murid. Contohnya, bila ada  murid yang nakal, sulit untuk berkembang, ataupun malas tidak memiliki semangat belajar. Stereotip negatif kepada murid seperti contoh tersebut, akan memengaruhi kepada semangat mencapai tujuan pendidikan, sehingga murid yang seharusnya mendapat perlakuan khusus malah terabaikan.

Namun, setelah saya menyelami dan memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui kegiatan refleksi terhadap pemikiran KHD dalam Pendidikan Guru Penggerak, melalui bimbingan dari instruktur, fasilitator dan pengajar praktik serta berkolaborasi dengan rekan Calon Guru Penggerak lain, saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru yang mencerahkan, yaitu :

Pertama bahwa pendidikan itu adalah proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. 

Kedua tentang trilogi pendidikan KHD (Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani) yang menjadi dasar bagi pendidik untuk menuntun murid dalam menumbuhkembangkan  kekuatan positif yang dimiliki murid. 

Ketiga bahwa setiap anak terlahir dengan kekuatan kodrat yang masih samar-samar, bukan tabula rasa. Tugas pendidik adalah menebalkan laku anak dengan kekuatan konteks diri anak dengan mengetahui tahap tumbuh kembang anak dan sosio-kultural budaya bahwa pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan. 

Keempat bahwa maksud atau tujuan pengajaran dan pendidikan adalah memerdekakan manusia. Merdeka bukan hanya tidak terperintah, akan tetapi juga dapat menegakkan dirinya dan mengatur perikehidupannya dengan tertib. Manusia merdeka adalah manusia yang hidupnya tidak bergantung kepada orang lain dari sisi lahir dan batinya akan tetapi berfokus kepada kekuatan diri yang dimiliki. 

Kelima bahwa pendidikan semestinya berpihak atau berpusat pada anak. Sebagaimana istilah KHD, “bebas dari segala ikatan dengan suci hati mendekati sang anak bukan untuk meminta sesuatu hak melainkan untuk berhamba kepada sang anak.” Memandang murid bukan sebagai objek melainkan sebagai pelaku. Selalu mengedepankan kebutuhan mereka, melibatkan mereka dalam mengambil keputusan yang berpihak pada mereka. Sebagai guru, saya memberikan mereka kesempatan dan fasilitas mereka dalam mencapai tujuan pembelajarannya. Seorang guru harus memiliki rasa hormat, memuliakan mereka sehingga secara tidak disadari akan tumbuh rasa senang pada murid. Kondisi ini akan bisa memudahkan murid dalam menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan guru, dan tentunya akan memberikan hasil yang memuaskan.

 Keenam bahwa pokok pendidikan harus terletak pada orang tua, dalam hal ini adalah ibu dan ayah yang menjadi lingkungan utama dimana anak lahir dan dibesarkan. Karena hanya kedua orang inilah yang dapat “berhamba pada anak” dengan tulus ikhlas, dengan cinta kasih yang tulus tak terbatas. Maka kesuksesan pengajaran dan pendidikan terletak pada sinergi dan kolaborasi antara pendidik di sekolah dengan orang tua di rumah.

Setelah mempelajari modul tentang filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, ada beberapa perubahan signifikan dalam pemikiran dan perilaku saya yang dapat saya identifikasi:

Pemahaman yang lebih dalam tentang pendekatan holistik dalam Pendidikan: Saya sekarang menyadari betapa pentingnya memperlakukan murid sebagai individu yang utuh, yang membutuhkan perhatian terhadap aspek fisik, emosional, intelektual, dan spiritual dalam pembelajaran.

Peningkatan fokus pada pembentukan karakter dan moral: Setelah memahami filosofi Ki Hajar Dewantara, saya menjadi lebih sadar akan pentingnya pembentukan karakter dan moral dalam pendidikan. Saya sekarang lebih memperhatikan bagaimana setiap pelajaran dapat digunakan untuk memperkuat nilai-nilai positif dan mengembangkan sikap yang baik pada murid.

Pendorong untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang berarti: Pemikiran Ki Hajar Dewantara mendorong saya untuk menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna dan berkesan bagi murid. Saya mencoba untuk lebih kreatif dalam merancang aktivitas pembelajaran yang merangsang kreativitas, pemikiran kritis, dan rasa ingin tahu murid.

Perubahan dalam pendekatan terhadap pembelajaran aktif: Setelah memahami bahwa Ki Hajar Dewantara mengadvokasi pendidikan yang melibatkan murid secara aktif dalam proses pembelajaran, saya mulai menerapkan lebih banyak strategi pembelajaran aktif dalam kelas. Saya lebih mempromosikan diskusi, proyek berbasis masalah, dan kolaborasi antar murid.

Kesadaran akan peran saya sebagai pendamping pendidikan: Pemikiran Ki Hajar Dewantara telah menguatkan kesadaran saya akan peran saya sebagai pendamping pendidikan. Saya menyadari bahwa sebagai pendidik, saya memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga  mendukung pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan murid.

Pemahaman tidaklah bermanfaat ketika hanya berhenti pada wacana semata, sehingga diperlukan aksi nyata didalam proses pendidikan.  Oleh karenanya sebagai pendidik saya harus dapat menerapkan dalam praktik nyata kegiatan pembelajaran. Diantara implementasi yang dapat segera saya terapkan adalah :

Membuat lingkungan belajar yang ramah dan menginspirasi: Saya dapat mulai dengan menciptakan lingkungan kelas yang menyambut dan menginspirasi, yang mencerminkan nilai-nilai humanis dan nasionalisme yang dianut oleh KHD. Ini bisa meliputi memperindah kelas dengan citra-citra inspiratif, menampilkan karya seni atau kutipan yang memotivasi, serta menciptakan suasana yang terbuka dan inklusif bagi semua murid.

Mengadopsi pendekatan pembelajaran aktif: Saya dapat meningkatkan penggunaan pendekatan pembelajaran aktif dalam pengajaran saya. Ini bisa melibatkan lebih banyak diskusi kelompok, proyek kolaboratif, dan kegiatan praktik langsung yang mendorong murid untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Saya juga dapat mendorong murid untuk mengajukan pertanyaan, mengeksplorasi ide-ide sendiri, dan berbagi pengalaman mereka.

Memperkuat pembentukan karakter dan moral: Saya dapat menyempatkan waktu dalam kurikulum untuk secara eksplisit membahas dan memperkuat nilai-nilai karakter dan moral yang dipegang oleh KHD. Ini bisa melalui diskusi tentang etika, kejujuran, tanggung jawab sosial, dan kerjasama. Saya juga dapat mengintegrasikan cerita, contoh, atau permainan peran yang mengilustrasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Menggunakan pengalaman pembelajaran berbasis masalah: Saya dapat merancang lebih banyak pengalaman pembelajaran berbasis masalah yang relevan dengan kehidupan murid dan masyarakat mereka. Ini akan membantu murid memahami konsep-konsep akademis dalam konteks yang nyata, sambil mengembangkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kerjasama.

Mengembangkan keterlibatan siswa dan partisipasi: Saya dapat secara aktif mengupayakan untuk meningkatkan keterlibatan murid dan partisipasi mereka dalam kegiatan kelas. Ini bisa melalui mendengarkan lebih banyak pendapat murid, memberikan kesempatan untuk berbagi ide dan pengalaman, serta memberikan tanggapan positif atas usaha dan kontribusi mereka.

Dengan menerapkan langkah-langkah ini, saya yakin kelas saya akan mencerminkan lebih banyak nilai dan prinsip yang dianut oleh pemikiran Ki Hajar Dewantara, menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih berarti dan memotivasi bagi murid-murid di sekolah.