Kemuliaan Abu Ayub Al-Anshori
#Kemuliaan
Kemuliaan Abu Ayub Al-Anshori
Oleh : Siti Yuliati
Desember 2021 lalu saya menemani suami ke Istanbul Turki untuk keperluan riset ilmiahnya. Ketika berada di sana kami sempatkan berwisata Sejarah ke makam Abu Ayub Al-Anshori. Destinasi ini tak boleh dilewatkan saat mengunjungi Istanbul karena sarat dengan jejak sejarah kebesaran Islam. Di Turki nama Abu Ayub dikenal dengan sebutan Eyup. Makam Abu Ayub berada di sebuah komplek Masjid Eyup Sultan yang berlokasi di sebuah distrik yang bernama Eyüpsultan Mahallesi atau terletak di luar benteng Konstantinopel dekat Tanduk Emas (Golden Horn).
Untuk menuju kesana, kami berangkat dari jalan Sultan Ahmet naik Tramway jurusan Kabataş lalu turun di karaköy. Dari Karakoy naik Bus 99A jurusan Eyüp sultan Cami, lalu berjalan sekitar 5 menitan untuk sampai ke Komplek Masjid Eyup Sultan.
Memasuki halaman dalam masjid, kami disuguhkan dengan ruang hijau yang diisi pohon Sycamore besar. Bagian dalam masjid memiliki desain yang sangat indah. Karpet-karpet tebal terhampar, lampu gantung raksasa menjuntai kokoh dan kubah arsitektur khas Turki menghiasi bangunan berusia ratusan tahun tersebut. Setelah selesai shalat kami bergerak ke Makam Abu Ayub yang berada di halaman depan masjid. Bangunan makam terlihat sangat kontras dengan masjid, di mana bangunan ini dihiasi dengan keramik beraneka warna, namun tetap berasa nuansa sakralnya.
Masih ingat dengan nama Abu Ayub Al-Ansori? Yup, betul ia adalah sahabat Nabi yang memiliki keutamaan dimana rumahnya dipilih Nabi untuk disinggahi saat beliau baru saja tiba dari Makah hijrah ke Madinah. Rasa senang dan bangga karena mendapat kemuliaan menjamu Rasulullah Saw Abu Ayub berusaha dengan sungguh-sungguh melayani Nabi dengan sebaik mungkin.
Nama aslinya adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib. Dia berasal dari suku Khazraj, kabilah Bani Najjar. Abu Ayyub al-Anshari meninggal pada tahun 52 H di usia 80 tahun di Konstantinopel. Ketika itu, dia sedang ikut bersama pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah untuk menaklukkan Konstantinopel.
Abu Ayub dimasa Nabi termasuk di antara 70 orang Mukmin yang melakukan baiat Aqabah kedua, berjanji setia dan siap menjadi pembela Rasulullah. Sejak orang-orang Quraisy berencana menyerang kaum muslimin di Madinah, sejak itu pula Abu Ayub bertekad bulat berjihad di jalan Allah. Ia turut bertempur dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq dan hampir di tiap medan tempur, ia tampil sebagai pahlawan yang siap mengorbankan jiwa dan hartanya.
Semboyan jihad yang selalu membuat semangatnya membuncah adalah firman Allah SWT yang berbunyi : “Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah…” (QS At-Taubah: 41).
Sewaktu terjadi pertikaian antara Ali dan Muawiyah, Abu Ayub berdiri di pihak Ali tanpa sedikit pun keraguan. Dan kala Khalifah Ali bin Abi Thalib syahid, dan khilafah berpindah kepada Muawiyah, Abu Ayub menyendiri dalam kezuhudan. Tak ada yang diharapkannya dari dunia selain tersedianya suatu tempat yang lowong untuk berjuang dalam barisan kaum Muslimin.
Ketika diketahuinya balatentara Islam tengah bergerak ke arah Konstantinopel, tak peduli kondisi tubuhnya yang telah renta, ia segera memegang kuda dan membawa pedangnya, memburu syahid yang sejak lama ia dambakan.
Dalam pertempuran inilah ia menderita luka berat. Ketika panglima pasukan Yazid bin Muawiyah datang menjenguk, nafasnya tengah berlomba dengan keinginannya menghadap Ilahi. Maka bertanyalah Yazid bin Muawiyah, "Apakah keinginan anda wahai Abu Ayub? Abu Ayub mengatakan: "Sekiranya aku syahid disini wahai Yazid kalian kuburkan aku ditepi benteng Konstantinopel, karena aku ingin mendengar derapan tapak kaki kuda sebaik-baik raja ketika mereka menaklukkan Konstantinopel". "Aku mendengar baginda Rasulullah mengatakan seorang lelaki soleh akan dikuburkan di bawah tembok tersebut”.
Demikian kisah patriotisme Abu Ayub yang bikin haru dan memberi inspirasi kepada kita semua agar konsisten melakukan kebaikan baik di ketika masih muda maupun sudah tua, terus bermanfaat di sepanjang jalan kehidupan. Abu Ayub telah hidup mulia, dengan menjadi penjamu terbaik Nabi dan menjadi Mujahid perintis penaklukkan konstantinopel. Wallahu A’lam

